MADRASAH DI ERA GLOBALISASI

BAB I PENDAHULUAN

Madrasah adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang penting di Indonesia selain pesantren. Keberadaannya begitu penting dalam menciptakan kader-kader bangsa yang berwawasan keislaman dan berjiwa nasionalisme yang tinggi. Salah satu kelebihan yang dimiliki madrasah adalah adanya integrasi ilmu umum dan ilmu agama. Madrasah juga merupakan bagian penting dari lembaga pendidikan nasional di Indonesia. Perannya begitu besar dalam menghasilkan output-output generasi penerus bangsa. Perjuangan madrasah untuk mendapatkan pengakuan ini tidak didapatkan dengan mudah. Karena sebelumnya eksistensi lembaga ini kurang diperhatikan bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sekarang Departemen Pendidikan Nasional. Yang ada justru sebaliknya, madrasah seolah hanya menjadi pelengkap keberadaan lembaga pendidikan nasional. Dalam perkembangannya, madrasah yang tadinya hanya dipandang sebelah mata, secara perlahan-lahan telah berhasil mendapat perhatian dari masyarakat. Apresiasi ini menjadi modal besar bagi madrasah untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa. Dalam konteks kekinian, sekarang ini banyak sekali madrasah-madrasah yang menawarkan konsep pendidikan modern. Konsep ini tidak hanya menawarkan dan memberikan pelajaran atau pendidikan agama. Akan tetapi mengadaptasi mata pelajaran umum yang diterapkan di berbagai sekolah umum. Kemajuan madrasah tidak hanya terletak pada sdm-nya saja, namun juga desain kurikulum yang lebih canggih, dan sistem manajerial yang modern. Selain itu, perkembangan kemajuan madrasah juga didukung dengan sarana infrastruktur dan fasilitas yang memadai sesuai dengan kebutuhan kegiatan belajar-mengajar di madrasah. Di lain pihak, arus globalisasi cenderung mengkhawatirkan kehidupan bangsa. Apalagi dengan kebudayaannya yang heterogen dari Sabang sampai Merauke. Hal itu dikarenakan semakin derasnya arus informasi komunikasi yang cenderung negatif dan massif. Sementara itu, ‘’globalisasi’’ adalah kata yang digunakan untuk mengacu kepada ‘’bersatunya’’ berbagai negara dalam globe menjadi satu entitas. Berdasarkan istilah ‘’globalisasi’’ berarti ‘’perubahan-perubahan struktural dalam seluruh kehidupan negara bangsa yang mempengaruhi fundamen-fundamen dasar pengaturan hubungan antarmanusia, organisasi-orgaisasi sosial, dan pandang-pandangan dunia’’. Dengan kenyataan itu, mampukah madrasah menjadi lembaga pendidikan Islam yang eksis dalam memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat? Dan, jika memang benar mampu, upaya seperti apa yang mesti dilakukan oleh madrasah dalam menantang arus globalisasi seperti sekarang ini?

BAB II PEMBAHASAN

1. Era Globalisasi di Indonesia Krisis yang melanda Indonesia saat ini menyadarkan kita bahwa kita kini bukan lagi sedang menghadapi era globalisasi, melainkan sudah memasuki era tersebut. Krisis moneter yang semula melanda Thailand dua tahun lalu kemudian merembet ke negara-negara ASEAN lainnya dan akhirnya juga melanda Indonesia. Dampak dari krisis yang semula bersifat ekonomis itu ternyata melebar menjadi krisis politik dan sosial yang sampai saat ini, sesudah dua tahun, belum kunjung selesai. Globalisasi adalah suatu proses proses mendunia akibat kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang telekomunikasi dan transportasi. Globalisasi mengakibatkan orang tidak lagi memandang dirinya sebagai hanya warga suatu negara, melainkan juga sebagai warga masyarakat dunia. Ia tidak lagi menganggap benar nilai-nilai yang selama ini dianut oleh masyarakat kampung, kota, propinsi, atau bangsanya, melainkan mulai membandingkannya dengan nilai-nilai yang dia pelajari dari bangsa lain. Dalam bekerja pun, ia tidak lagi memandang wilayah negaranya sebagai tempat mencari nafkah, melainkan ia meluaskan pandangannya ke seluruh kawasan dunia sebagai lahan tempat ia mencari nafkah. Contoh rakyat Indonesia yang berwawasan global adalah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja di luar negeri. Globalisasi di bidang ekonomi telah menimbulkan desakan-desakan agar diberlakukan perdagangan bebas antar bangsa. Beberapa negara telah membentuk persekutuan di bidang ekonomi: Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), AFTA (Asean Free Trade Area), dan APEC untuk kawasan Asia Pasifik. 2. Peluang dan Ancaman Globalisasi Globalisasi ini membawa dampak positif dan negatif bagi kepentingan bangsa dan ummat kita. Dampak positif, misalnya, makin mudahnya kita memperoleh informasi dari luar sehingga dapat membantu kita menemukan alternatif-alternatif baru dalam usaha memecahkan masalah yang kita hadapi. (Misalnya, melalui internet kini kita dapat mencari informasi dari seluruh dunia tanpa harus mengeluarkan banyak dana seperti dulu. Demikian pula, dalam hal tenaga kerja, dana, maupun barang). Di bidang ekonomi, perdagangan bebas antar negara berarti makin terbukanya pasar dunia bagi produk-produk kita, baik yang berupa barang atau jasa (tenaga kerja). Dampak negatifnya adalah masuknya informasi-informasi yang tidak kita perlukan atau bahkan merusak tatanan nilai yang selama ini kita anut. Misalnya, budaya perselingkuhan yang dibawa oleh film-film Italy melalui TV, gambar-gambar atau video porno yang masuk lewat jaringan internet, majalah, atau CD ROM, masuknya faham-faham politik yang berbeda dari faham politik yang kita anut, dsb. Di bidang ekonomi, perdagangan bebas juga berarti terbukanya pasar dalam negeri kita bagi barang dan jasa dari negara lain. Kita terpaksa harus bersaing dengan produk dan tenaga kerja asing di negara kita sendiri. Para pendatang asing yang, karena terpaksa, harus lebih ulet dan keras bekerja biasanya lebih berhasil daripada para penduduk domestik sehingga kesenjangan sosial tak terhindarkan dan kecemburuan sosial pun mudah timbul. Kalau kita kalah bersaing, kita akan menjadi penonton di negeri sendiri. (Contoh yang sudah terjadi adalah perfilman nasional). Menghindari globalisasi sebagai proses alami ataupun menghilangkan sama sekali dampak negatif globalisasi itu barangkali tidak mungkin. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita harus menghadapi globalisasi ini dan menerima segala dampaknya, negatif maupun positif. Oleh karena itu, tantangan yang kita hadapi sebagai kelompok elit ummat adalah: Bagaimana kita dapat memanfaatkan semaksimal mungkin dampak positif (peluang) globalisasi itu dan meminimalkan dampak negatif (ancaman) nya. Kalau pertanyaan itu diarahkan kepada kita para pengelola lembaga pendidikan Islam ini, maka pertanyaan itu akan menjadi: Bagaimana lembaga pendidikan kita dapat menyiapkan lulusan yang akan bisa survive dalam era globalisasi ini, tetap dapat memainkan peranan penting dalam kehidupan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai muslim Indonesia. 3. Kunci Keberhasilan di Era Globalisasi Perjanjian Perdagangan Bebas Antar Negara akan menimbulkan persaingan antar bangsa dalam memperebutkan pengaruh dan ekonomi. Hukum persaingan di mana-mana adalah sama, yaitu siapa yang unggul, dialah yang akan menjadi pemenangnya. Mereka yang tidak mempunyai keunggulan, akan menjadi pecundang. Dalam bahasa dunia dewasa ini, keunggulan yang amat menentukan adalah keunggulan di bidang ekonomi dan iptek. Inilah mata uang (currency) dalam kompetisi internasional dewasa ini. Persaingan di bidang ekonomi dan iptek ini berarti persaingan di bidang kualitas sumber daya manusia. Hanya bangsa yang memiliki SDM yang unggul di bidang ekonomi dan iptek lah yang akan keluar sebagai pemenang dalam kompetisi internasional ini. Karena pendidikan adalah “usaha sadar suatu bangsa untuk membentuk generasi mudanya agar menjadi manusia sesuai yang dia idam-idamkan”, maka tantangan yang dihadapkan oleh globalisasi kepada pendidikan nasional adalah: mampukah pendidikan nasional menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang berkualitas sehingga mampu memenangkan persaingan antar bangsa (atau setidaknya survive) dalam era globalisasi itu? Melalui repelita-repelita, pemerintah Indonesia telah berusaha untuk membangun bangsa ini dengan prioritas utama di bidang ekonomi (kesejahteraan duniawi). Ekonomi Indonesia yang dulu bertumpu pada pertanian (ekonomi agraris) secara bertahap diubah menjadi bertumpu pada industri (ekonomi industri). Perubahan ini tentu saja mengakibatkan perubahan kebutuhan tenaga kerja (kini pekerja pabrik lebih dibutuhkan daripada petani). Orientasi produk Indonesia pun kini beralih ke pasar internasional untuk mendapatkan lebih banyak devisa bagi pembangunan bangsa. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di zaman industrialisasi ini, dan untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerintah berkeinginan untuk mengubah komposisi mahasiswa di Indonesia dari yang, di tahun 1993/1994, 73% berada pada bidang studi ilmu sosial, 14% pada bidang studi IPA, dan 13% pada bidang studi Teknik menjadi 30% di bidang sosial, 25% di bidang IPA, dan 45% di bidang Teknik pada akhir PJP II. 4. Peran Madrasah dalam Menghadapi Globalisasi Di muka telah dikemukakan bahwa madrasah menempati peran strategis bagi pendidikan generasi muda ummat Islam karena di sanalah tempat kebanyakan anak para santri mempersiapkan diri untuk menjalankan peran penting mereka bagi masyarakat di kemudian hari. Dalam konteks mempersiapkan anak didik menghadapi perubahan zaman akibat globalisasi ini pun madrasah (lembaga pendidikan Islam) memiliki peran yang amat penting. Keberhasilan madrasah dalam menyiapkan anak didik menghadapi tantangan masa depan yang lebih kompleks akan menghasilkan lulusan yang akan menjadi pemimpin ummat, pemimpin masyarakat, dan pemimpin bangsa yang ikut menentukan arah perkembangan bangsa ini. Sebaliknya, kegagalan madrasah dalam menyiapkan anak didik menghadapi tantangan masa depan akan menghasilkan lulusan-lulusan yang frustrasi, tersisih, dan menjadi beban masyarakat. Naudzubillahi min dzalik. Dibandingkan dengan pendidikan di sekolah umum, madrasah mempunyai misi yang mulia. Ia bukan saja memberikan pendidikan umum (seperti halnya sekolah umum) tetapi juga memberikan pendidikan agama (melalui pelajaran agama dan penciptaan suasana kegamaan di madrasah) sehiingga, kalau pendidikan ini berhasil, para lulusannya akan dapat hidup bahagia di dunia ini (biasanya diukur secara ekonomis) dan hidup bahagia di akhirat nanti (karena ketaatannya pada ajaran agama)iv. Madrasah yang hanya menekankan pendidikan agama dan mengabaikan pendidikan umum mungkin hanya akan mampu memberikan potensi untuk bahagia di akhirat saja (walaupun ini masih lebih baik daripada hanya memperoleh kebaikan di dunia tanpa memperoleh kebahagiaan di akhirat). Dalam kaitannya dengan era globalisasi dan perdagangan bebas yang penuh dengan persaingan ini, madrasah harus juga menyiapkan anak didiknya untuk siap bersaing di bidang apa saja yang mereka masuki. Ini dimaksudkan agar lulusan madrasah tidak akan terpinggirkan oleh lulusan sekolah umum dalam memperebutkan tempat dan peran dalam gerakan pembangunan bangsa. Mengingat dalam UUSPN (Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional), madrasah dikategorikan sebagai sekolah umum, maka lulusan madrasah pun berhak melanjutkan belajarnya ke perguruan tinggi umum, baik Fakultas Ilmu Sosial maupun Fakultas Ilmu Eksaktav. Terbukanya peluang untuk memasuki perguruan tinggi umum ini harus dimanfaatkan oleh madrasah sebaik mungkin, terutama untuk Fakultas Ekonomi, Teknik, dan Eksakta, fakultas-fakultas yang selama ini dijauhi oleh lulusan madrasah. Hal ini disebabkan karena bidang-bidang ilmu itulah yang diperkirakan akan memainkan peran penting bagi pembangunan nasional pada masa-masa mendatang. Untuk itu, madrasah harus meningkatkan kualitas pelajaran ilmu eksakta seperti matematika, fisika, dan biologi. Madrasah harus mendorong para santrinya untuk mau bekerja di bidang ekonomi, teknik, dan ilmu eksakta murni agar bidang itu tidak hanya dikuasai oleh lulusan non-madrasah yang belum tentu memiliki mental keagamaan yang kuatvi. Agar lulusan madrasah memiliki wawasan global, yang memandang bahwa seluruh muka bumi milik Allah ini adalah tempat mengabdi, maka madrasah pun harus memiliki wawasan global. Bagaimana mungkin madrasah yang tidak memiliki wawasan global dapat menghasilkan lulusan yang memiliki wawasan global?vii Madrasah harus mempersiapkan anak didiknya agar dapat melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri. Untuk ini, maka penguasaan ketrampilan berbahasa asing (terutama Arab dan Inggris) menjadi amat penting. Demikian pula pengenalan budaya dan bangsa asing. 5.Pendidikan Islam Dalam Era Globalisasi Dan Transformasi Pendidikan Kemajuan–kemajuan yang diraih oleh sebagian besar bangsa-bangsa barat saat ini tidak lepas dari sistem globalisasi yang mereka canangkan. Sistem ini tentu saja mereka sambut baik karena sumber daya serta sistem kehidupannya yang memang sudah sangat siap untuk bersaing. Era ini disebut juga dengan era globalisasi. Era yang lahir berkat kemajuan-kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Globalisasi informasi contohnya mempunyai dampak yang besar pada aspek kehidupan kita. Informasi tentang turunnya nilai dollar terhadap yen, misalnya, segera terlihat dampaknya terhadap berbagai hal, antara lain dalam perubahan harga barang-barang impor dari Jepang, dalam arus wisata asing yang berkunjung ke Jepang, dalam jumlah hutang luar negeri Indonesia dinyatakan dalam rupiah, dan dalam hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Jepang. Implikasinya selain terhadap kedua negara tentu saja terhadap perekonomian. politik, dan sosial Negara-negara yang terkait dengannya. Pada akhirnya, era globalisasi ini membuat setiap masyarakat modern tidak mungkin untuk hidup secara menyendiri, secara terisolasi. Dalam era globalisasi ini setiap masyarakat modern harus selalu bersentuhan dengan masyarakat modern yang lain, baik dalam kehidupan ekonomi, maupun kehidupan politik, sosial atau pun kultural. Persentuhan-persentuhan antar bangsa dalam era ini bisa saja dalam bentuk sebuah kerjasama, tetapi bisa saja dalam bentuk persaingan (kompetitif). Bangsa kita dituntut untuk dapat hidup dengan bangsa lain secara kooperatif dan kompetitif. Untuk dapat hidup seperti itu, maka diperlukan penguasaan terhadap berbagai alat-alat intelektual. Bagaimana suatu bangsa dapat bersaing dengan bangsa lain dalam kehidupan industri kalau bangsa tadi tidak menguasai berbagai teknologi yang menjadi landasan dari industri modern? bagaimana suatu bangsa dapat menjalin kerjasama ekonomi dan politik yang baik dengan bangsa lain kalau bangsa tadi tidak menguasai tatakrama politik dan ekonomi yang berlaku dalam pergaulan bangsa? Ada beberapa persyaratan dasar yang harus dipenuhi oleh suatu masyarakat untuk bisa bertahan dalam era globalisasi, yaitu : 1.Penguasaan “the basics”, yaitu penguasaan pengetahuan yang bersifat dasar di bidang-bidang bahasa, matematika, pengetahuan alam, dan sosial. 2.Kemampuan belajar (learning capability), yaitu kemampuan untuk belajar dalam tatanan-tatanan non formal, non-formal, dan informal. 3.Memiliki pengetahuan dasar dalam sains dan teknologi. 4.Memiliki jiwa berusaha (entrepreneurship). 5.Memiliki etos kerja yang dapat dihandalkan. Untuk membentuk masyarakat yang memenuhi persyaratan di atas tentu saja merupakan tugas dari pendidikan kita. Salah satu indikasi ke arah sana ditunjukkan oleh munculnya sekolah-sekolah “elite” atau “favorite” serta “full day-school”. Ide-ide tersebut lahir berkat ketidakpuasan sebagian kalangan terhadap penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik dan uniformis dan kemudian melahirkan otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan. Fenomena-fenomena di atas dapat disebut sebagai “Tranformasi Pendidikan”. Yang dimaksud di sini adalah perubahan watak serta bentuk pada sekolah-sekolah kita. Dari sekolah tempat menghafal menjadi sekolah tempat belajar berfikir. Dari kelas-kelas yang berdesak-desakan menjadi sekolah yang memberi keleluasaan bergerak. Dari sekolah yang tidak akrab dengan lingkungan lokalnya menjadi sekolah yang dikenal, dicintai dan dibanggakan lingkungan lokalnya. Ada empat perubahan pokok yang harus terjadi untuk mewujudkan transformasi ini, keempat perubahan itu adalah : 1. Penyusutan jumlah murid per kelas, dari 50 menjadi 30 murid perkelas. 2. Adanya perpustakaan sekolah 3. Adanya pusat bimbingan sekolah (bimbingan dan konseling). 4. Perbaikan penghasilan guru sehingga dapat bekerja optimal dan profesional. Madrasah sebagai bentuk pendidikan Islam mengalami berbagai permasalahan dalam mewujudkan prinsip-prinsip di atas. Keterbatasan dana, sistem kurikulum, dan mutu tenaga kependidikan yang berkompeten di bidangnya menyebabkan madrasah sebagai pencipta sumber daya manusia Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam mengalami kebingungan dan tertancam keberadaannya di masa depan. Bagaimana mungkin dengan kondisi tersebut mampu menciptakan bangsa yang berakhlak sekaligus menguasai tekonologi serta dapat bersaing dengan bangsa lain di era globalisasi sekarang ini?. Disatu sisi nilai-nilai moral yang terkandung dalam muatan pelajaran keagamaan sangat berat, kemudian harus juga menguasai ilmu non agama dan teknologi dengan sarana, dana, dan pendidik yang terbatas. Terhadap era globalisasi yang menuntut adanya pergaulan serta pengenalan antar budaya antar bangsa, dunia madrasah sebagai institusi pendidikan Islam belum memberikan dasar-dasar yang dibutuhkan di dalamnya. Tidak mengherankan jika pengetahuan siswa tentang hal-hal yang esensial dan mendasar sifatnya dalam kehidupan sehari-hari sangatlah minim kalau dibandingkan pengetahuan tentang soal-soal yang kurang esensial. Contohnya pengetahuan tentang artis dan bintang film tenar, lagu-lagu barat, atau gossip yang sedang marak lebih kaya dibanding pengetahuannya tentang kondisi geografis, sistem politik, dan ekonomi. Kondisi memprihatinkan pada pendidikan Islam khususnya dan nasional pada umumnya juga ternyata dipengaruhi oleh sistem yang sebenarnya telah lama dikritik namun tetap mempertahankan keberadannya. Diantaranya adalah penerimaan ilmu pengetahuan dan penggunaannya yang berbeda disebabkan oleh orientasi sekolah yang salah, mata pelajaran dan jurusan-jurusan yang ditempuh tidak applicable di masyarakat dalam jangka waktu dekat, dana pendidikan yang minim, dan tidak ada alternatif keterampilan bagi lulusan tingkat menengah bila tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena yang dipandang untuk dapat bekerja hanyalah lulusan perguruan tinggi padahal dari lulusan sekolah menengah hanya sedikit yang melanjutkan ke jenjang berikutnya. 6. Merespon Tantangan Globalisasi Sebelum mengalami perkembangan seperti sekarang ini, madrasah hanya diperuntukkan bagi kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Namun sejak mulai mengadopsi sistem pendidikan moderen yang berasal dari Barat sambil tetap mempertahankan yang sudah ada dan dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung iklim pembelajaran siswa dan pengajaran siswa, madrasah (atau sekolah Islam) sekarang sudah sangat diminati oleh kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. Apalagi madrasah sekarang ini sudah banyak yang menjalankan dengan apa yang disebut sebagai English Daily. Semua guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar harus berbicara dalam bahasa Inggris. Madrasah seperti Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, Sekolah Islam Al-Azhar, sekolah Islam Al-Izhar, Sekolah Islam Insan Cendekia, dan lain sebagainya adalah beberapa contoh diantaranya. Kemampuan bahasa asing yang bagus di era globalisasi seperti sekarang ini mutlak diperlukan. Oleh karena itu, di beberapa madrasah dan sekolah Islam itu kemudian tidak hanya memberikan pengetahuan bahasa Inggris saja. Lebih dari itu, pengetahuan bahasa asing lainnya juga absolut diajarkan oleh madrasah seperti bahasa Arab misalnya. Atau bahasa Jepang, Mandarin dan lainnya pada tingkat Madrasah Aliyah. Di samping itu, dalam menghadapi era globalisasi, madrasah sebagai institusi pendidikan Islam tidak lantas cukup merasa puas atas keberhasilan yang telah dicapainya dengan memberikan pengetahuan bahasa asing kepada para siswanya dan desain kurikulum pendidikan yang kompatibel dan memang dibutuhkan oleh madrasah. Akan tetapi, justru madrasah harus terus berpikir ulang secara berkelanjutan yang mengarah kepada progresivitas madrasah dan para siswanya. Oleh karena itu, dalam pendidikan madrasah memang sangat diperlukan pendidikan keterampilan. Pendidikan keterampilan ini bisa berbentuk kegiatan ekstra kurikuler atau kegiatan intra kurikuler yang berupa pelatihan atau kursus komputer, tari, menulis, musik, teknik, montir, lukis, jurnalistik atau mungkin juga kegiatan olahraga seperti sepak bola, basket, bulu tangkis, catur dan lain sebagainya. Dari pendidikan keterampilan nantinya diharapkan akan berguna ketika para siswa lulus dari madrasah. Karena jika sudah dibekali dengan pendidikan keterampilan, ketika ada siswa yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi seperti universitas misalnya, maka siswa dengan bekal keterampilan yang sudah pernah didapatnya ketika di madrasah tidak akan kesulitan lagi dalam upaya mencari pekerjaan. Jadi, kiranya penting bagi madrasah untuk mengembangkan pendidikan keterampilan tersebut. Sebab, dengan begitu siswa akan langsung dapat mengamalkan ilmunya setelah lulus dari madrasah atau sekolah Islam. Namun semua itu tentunya harus dilakukan secara profesional. Dengan adanya pendidikan keterampilan di sekolah-sekolah Islam atau madrasah, lulusan madrasah diharapkan mampu merespon tantangan dunia global yang semakin kompetitif. Dan nama serta citra madrasah juga tetap akan terjaga. Karena ternyata alumni-alumni madrasah mempunyai kompetensi yang tidak kalah kualitasnya dengan alumni sekolah-sekolah umum. BAB III PENUTUP Makalah ini telah mencoba membahas masalah tantangan globalisasi yang dihadapkan kepada lembaga pendidikan Islam, khususnya madrasah. Sebagai lembaga pendidikan yang mempersiapkan generasi muda ummat Islam untuk masa depan, madrasah diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang akan mampu memainkan peran penting di semua sektor kehidupan bangsa, baik itu sektor agama, sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi. Madrasah diunggulkan daripada sekolah umum karena madrasah memberikan pendidikan agama (yang lebih baik daripada sekolah umum) di samping pendidikan umum (yang sama dengan sekolah umum). Persoalan yang masih dihadapi madrasah saat ini adalah masifh rendahnya standar kualitas pendidikan umum yang diberikannya di madrasah. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena kurang disadarinya peran penting pendidikan umum itu bagi kelanjutan peran ummat dalam percaturan pembangunan nasional. Namun, dampak dari kekurang sadaran akan peran penting pendidikan umum, terutama di bidang teknologi dan ilmu eksakta, ini akan menyebabkan sektor-sektor ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat menentukan arah pembangunan nasional terpaksa diserahkan kepada lulusan non-madrasah. Sebelum terlambat, madrasah disarankan untuk lebih memperhatikan masalah kualitas pendidikan umum ini bagi para santrinya.

D A F T A R R U J U K A N

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=13&dn=20070123142706

http://whandi.net/pemberdayaan-madrasah.html#more-2613

http://cafenux.com/note/23939-tantangan-tranformasi-madrasah.html

http://mankualaenok.wordpress.com/2009/08/25/madrasah-dan-tantangan-global/

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=174753

Posted on Januari 30, 2011, in TULISAN and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: