teori belajar skinner

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Dalam proses belajar mengajar manusia tidak bisa terlepas dari stimulus dan respon yang dialami sebagai suatu tanggapan atas suatu rangsangan yang masuk. Para ilmuwan terdahulu banyak menggunakan hewan sebagai bahan percobaan terhadap teori-teori yang telah ditemukan, yang mana teori tersebut bila sudah teruji dengan baik maka dapat diaplikasikan terhadap manusia, diantaranya yaitu teori Burrhus Frederic Skinner, Edwin R Gutric, dan Clark Hull.

Akan tetapi dalam makalah ini hanya akan menjelaskan tentang teori belajar Burrhus Frederic Skinner saja.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dan agar pembahasan dalam makalah ini tidak terlalu melebar maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah teori belajar menurut Burrhus Frederic Skinner?
  2. Bagaimana prinsip-prinsip belajar menurut Burrhus Frederic Skinner?

C.     Tujuan Pembahasan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui teori belajar menurut Burrhus Frederic Skinner
  2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip belajar menurut Burrhus Frederic Skinner

BAB II

PEMBAHASAN

A.     Teori Belajar Skinner

Skinner memulai penemuan teori belajarnya dengan kepercayaan bahwa prinsip-prinsip yang terkandung dalam kondisionning klasik hanya sebagian kecil dari prilaku yang bisa dipelajari. Banyak prilaku manusia adalah operan, bukan responden. Konsioning klasik hanya menjelaskan bagaimana prilaku yang ada dipasangkan dengan rangsangan yang baru, yang mana dalam teoritersebut tidak menjelaskan bagaimana prilaku operan baru tersebut dapat dicapai.

Dalam teori belajarnya Skinner mendefinissikan bahwa belajar adalah sebuah proses perubahan prilaku. Perubahan-perubahan prilaku yang telah dicapai dari hasil belajar tersebut melalui beberapa penguatan-penguatan prilaku yang baru, yang disebut dengan kondisioning operan (operan conditioning).

Secara konseptual Skinner menyatakan bahwa prilaku dapat dianalogikan dengan sebuah sandwich, yang dapat membawa dua pengaruh lingkungan terhadap prilaku. Yang pertama, disebut dengan anteseden (peristiwa yang mendahului prilaku), dan yang kedua adalah konsekuen (peristiwa yang mengikuti prilaku) yang mana hubungan tersebut dapat ditunjukkan dengan rangkaian antecedents-behavior-consequences atau A-B-C.

Dalam eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti, yang mana peti tersebut berisi dua komponen yaitui manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang berupa wadah makanan. Adapun manipulandum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcement, yang terdiri atas tombol, batang jeruji, dan pengungkit.

Dalam eksperimen ini mula-mula tikus mengeksplorasi peti sangkar dengan cara lari kesana kemari, mencium benda-benda yang ada di sekitarnya, mencakar dinding, dan sebagainya. Tingkah laku tikus dapat disebut dengan “emmited behavior” (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa memperdulikan stimulus. Adapun tingkah laku tikus (cakaran kaki, sentuhan moncong) dapat menekan pengungkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir makanan ke dalam wadah.

Teori belajar Skinner ini tunduk pada dua hokum operan yang berbeda, yaitu:

1.      Law Operant Conditioning yaitu jika suatu tingkah laku diiringgi dengan sebuah penguat maka tingkah laku tersebut akan meningkat.

2.      Law Extinction yaitu jika suatu tingkah laku diperkuat dsengan stimulus penguat dalam kondisioning, tidak diiringgi stimulus penguat, maka tingkah laku tersebut akan menurun bahkan musnah.

B.     Prinsip-Prinsip Belajar Menurut Skinner

Hasil eksperimen yang dilakukan Skinner menghasilkan beberapa prinsip-prinsip belajar yang menghasilkan perubahan prilaku yaitu:

  1. Reinforcement

Yaitu sebuah konsekuen yang menguatkan tingkah laku (frekuensi tingkah laku). Seperti dalam contoh, permen pada umumnya dsapat menjadi reinforcer bagi prilaku anak kecil, tetapi ketika beranjak dewasa permen bukan lagi suatu yang menyenangkan, bahkan ada anak kecil yang tidak menyukai permen. Dalam strategi belajar mengajar kadang-kadang seorang guru telah melakukan reinforcer terhadap siswanya dengan memberi hadiah untuk prilaku seorang murid agar duduk tenang selama pelajaran berlangsung, tetapi seorang murid tidak mengerjakan tugasnya. Dalam hal ini, guru telah melakukan kesalahan dalam menggunakan reinforcer sehingga hadiah yang diberikan guru kepada siswa tidak dapat menguatkan prilaku siswa yang diharapkan.

Dengan demikian agar reinforcement yang diberikan kepada seorang siswa sesuai dengan tujuan maka perlu diperhatikan jenis-jenis reinforcement yang disukai siswa.

Secara umum reinforcement dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a.       Dari segi jenisnya

Reinforcemen dibagimenjadi dua kategori, yaitui:

1)        Reinforcemen primer yaitu reinforcemen yang berupa kebutuhan dasar manusia seperti; makanan, air, keamanan, dan kehangatan.

2)        Reinforcemen sekunder yaitu reinforcemen yang diasosiasikan dengan reinforcemen primer, seperti; uang mungkin tidak mempunyai nilai bagi anak kecil sampai ia belajar bahwa uang itu dapat digunakan untuk membeli kue kesikaannya.

b.      Dari segi bentuknya

Dalam hal ini reinforcemen dibagi menjadi dua, yaitu:

1)        Reiforcemen positif adalah konsekuen yang diberikan untuk menguatkan atau meningkatkan prilaku seperti hadiah, pujian, dan kelulusan.

2)        Reinforcemen negative adalah menarik diri dari situasi yang tidak menyenangkan untuk menguatkan tingkah laku misalnya, guru yang membebaskan muridnya dari tugas membersihkan kamar mandi jika muridnya dapat menyelesaikan tugas rumahnya.

c.       Waktu pemberian reinforcemen

Keefektifan reinforcemen dalam prilaku tergantung pada berbagai factor diantaranya frekuensi atau jadwal pemberian reinforcemen. Ada empat macam pemberian jadwal reinforcemen, yaitu:

1)      Fixed Rtio (FR) adalah salah satu skedul pemberian reinforcemen ketika reinforcemen diberikan setelah sejumlah tingkah laku. Misalnya, seorang guru mengatakan “kalau kalian dapat menyelesaikan sepuluh soal matematika dengan cepat dan benar, maka kalian boleh pulang dahulu”.

2)      Variabel-Ratio (VR) adalah sejumlah prilaku yang dibutuhkan untuk berbgai macam reinforcemen, dari reinforcemen satu ke reinforcemen yang lain.

3)      Fixed Interval (FI), yang diberikan ketika seorang menunjukkan prilaku yang diinginkan pada waktu tertentu.

4)      Variabel Interval (VI) yaitu reinforcemen yang diberikan tergantung pada waktu dan sebuah respons. Tetapi antara waktu dan reinforcemen bermacam-macam.

  1. Punishment

Punishmen adalah menghadirkan atau memberikan sebuah situasi yang tidak menyenangkan atau situasi yang ingin dihindari untuk menurunkan tingkah laku.

Menurut Kazdin ada dua aspek dalam punishment yaitu:

a.       Sesuatu yang tidak menyenangkan (aversive) muncul setelah sebuah respon (aversive stimulus). Misalnya, seorang guru yang menjemur siswa yang selalu ramai di dalam kelas.

b.      Sesuatu yang positif (menyenangkan) setelah respon tidak muncul. Misal, seorang remaja yang selalu mengganggu temannya mungkin akan kehilangan kesempatan untuk menggunakan mobil pada akhir pejkan.

Dari segi bentuknya, punishment terdiri dari time out dan respons cost.

a.       Time out adalah sebuah bentuk hukuman di mana seseorang  akan kehilangan sesuatu yang disukai atau disenangi pada waktu tertentu.

b.      Respons cost adalah sebuah bentuk hukuman di mana seseorang akan kehilangan reinforcemen positif jika melakukan prilaku yang tidak diinginkan. Misal, seorang siswa tidak diberi kesempatan mengakses internet di ruang computer sekolah jika ia tidak menjawab tugas yang diberikan.

  1. Shaping

Shaping adalah menggunakan langkah-langkah kecil yang disertai dengan feedback untuk membantu siswa mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Adapun langkah-langkah dalam pemberian shaping adalah:

a.       Memilih tujuan yang ingin dicapai

b.      Mengetahui kesiapan belajar siswa

c.       Mengembangkan sejumlah langkah yang akan memberikan bimbingan kepada siswa untuk melalui tahap demi tahap tujuannya dengan menyesuaikan kemampuan siswa.

d.      Memberi feedback terhadap hasil belajar siswa.

  1. Extinction

Adalah mengurangi atau menurunkan tingkah laku dengan menarik reinforcemen yang menyebabkan prilaku tersebut terjadi. Extinction ini terjadi melalui proses berlahan-lahan yang biasanya ketika reinforcemen ditarik atau dihentikan perilaku individu sering meningkat seketika. Misalnya seseorang yang akan membuka pintu, ternyata pintu terkunci. Maka orang tersebut akan membuka pintu pelan-pelan sampai akhirnya orang tersebut berusaha membuka dan menggedor pintu dengan keras untuk beberapa kali sampai merasa frustasi dean marah. Tetapi ketika seseorang tersebut sadar bahwa pintu tersebut terkunci, maka orang tersebut akan meninggalkannya.

Jadi extinction merupakan kunci untuk mengatur tingkah laku siswa.

  1. Anteseden dan perubahan prilaku

Dalam operant conditioning, anteseden dapat memberikan petunjuk apakah sebuah prilaku akan mendapatkan konsekuensi yang positif atau negative. Skinner membuat eksperimen dengan burung. Dalam eksperimennya tersebut dijelaskan ketika lampu menyala maka burung akan mematukkan paruhnya untuk mengambil makanan. Sebaliknya, ketika lampu mati burung tersebut tidak mematukkan paruhnya. Dengan kata lain, dalam eksperimen tersebutv burungtelah belajar menggunakan anteseden cahaya sebagai sebuah tanda untuk membedakan kemungkinan konsekuen yang akan dia dapatkan ketikan dia mematuk.

Menurut Skinner, untuk menghasilkan perubahan prilaku pada diri individu selain memperhatikan konsekuen juga digunakan anteseden-anteseden. Karena, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, perilaku manusia seperti sebuah sandwich atau serangkaian antecedents-behavior-consequens (A-B-C). ada dua cara untuk mengontrol anteseden agar menghasilkan perilaku baru atau perubahan perilaku, yaitu dengan cueing dan prompting.

a.      Cueing

adalah tindakan memberikan stimulus anteseden sebelum sebuah perilaku tertentu dilakukan. Cues (tanda-tanca) dapat dalam berbagai bentukyang memberi petunjuk kepada kita kapan kita harus mengubah tingkah laku dan kapan tidak melakukan apapun. Misalnya, selama pelajaran matematika biasanya seorang guru memberikan penguatan kepada siswa yang mengerjakan tugas matematika dan memberikan hukuman pada siswa yang tidak mengerjakan sama sekali. Akan tetapi, pada saat guru menggumumkan bahwa waktu pelajaran matematika sudah habis maka setiap siswa akan mendapatkan konsequen dari perilaku tersebut.

b.      Prompting

Terkadang siswa membutuhkan bantuan agar dapat merespon cues dengan cara yang benar, sehingga menjadi sebuah stimulus pembeda (a discriminative stimulus). Cara yang dapat digunakan adalah dengan memberikan petunjuk tambahan yang disebut dengan prompting. Ada dua prinsipdalam menggunakan prompting, yaitu:

1)        Yakinkan bahwa stimulus lingkungan yang akan dijadikan petunjuk terjadi segera sebelum prompting digunakan.

2)        Hentikan prompting secepat mungkin agar siswa tidak terganggu.

Posted on April 20, 2011, in TULISAN and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: